-->

TINGKATKAN KESADARAN BUDAYA TRADISIONAL MELALUI “BERSIH DESA”

Moh. Zalhairi
Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Kanjuruhan Malang
Kurangnya perhatian terhadap budaya lokal seakan telah menghilangnya dari kehidupan bangsa ini. Bagaimana tidak, saat ini jarang sekali kita temukan pentas budaya lokal di berbagai tempat. Padahal budaya tersebut syarat akan nilai dan pesan yang disampaikan kepada masyarakat. Para generasi muda lebih suka menyaksikan pertunjukan atau pentas budaya – budaya barat seperti music rock. Bahkan banyak seni pertunjukan yang kita miliki dicampuraduk dengan budaya luar sehingga budya lokal kehilangan identitasnya. Budaya lokal juga dakatakan kolot karena tidak mengikuti perkembangan zaman moderen. Karena alasan – alasan di atas budaya lokalpun banyak ditinggalkan. Namun bangsa dari negara lain sebut saja Malaysia justru mengklaim kebudayaan yang kita miliki.
Persepsi bahwa tidak adalagi generasi yang peduli terhadap budaya lokal ditepis oleh mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang. Pada tanggal 2 April lalu, mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia itu menyelenggarakan ajang “bersih desa” di lapangan Universitas Kanjuruhan. Acara tersebut bertemakan “ Menggagas Paradigma Masyarakat Pendidikan Yang Peduli Terhadap Budaya Daerah Dan Nasional”.
Adam, ketua pelaksana acara mengungkapkan, “kami ingin menunjukkan kepada semua bahwa masih ada generasi muda yang peduli budaya lokal meskipun banyak orang lebih suka budaya barat”. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kelestarian budaya lokal yang menjadi identitas bangsa ini.
Acara ini di buka dengan arak – arakan tumpeng dan wejangan yang menjadi cirikhas acara bersih desa.  Setelah itu, dilanjutkan dengan pertunjukan budaya tradisional. Salah satunya seni pertunjukan “jaranan”. Aksi  beberapa pemain dalam pertunjukan jaranan seperti memakan belik yang tidak lazim dilakukan manusia memukau ratusan mahasiwa.  “banyak hal yang kita dapatkan dari acara ini salah satunya menabah wawasan kita akan budaya kita sendiri, lebih – lebih dimalang yang kehidupannya metripolis sehingga jarang kita temui acara seperti ini. Selain itu kita juga dapet tontonan gratis”. Demikianlah ungkap Ayu salah seorang mahasiswa yang hadir meyaksikan acara tersebut. Acara berlangsung hingga sore hari. Bahakan pertunjukan tetap berlangsung meski dibawah derasnya guyuran hujan. Mahasiswapun tetep antusias menyaksikan melalui teras Universitas.
Bersih desa merupakan acara inti. Acara tersebut dirangkai dengan pekan Hairil Anwar yang diselenggarakan mulai tanggal 27 Maret lalu. Selama berlangsungnya rangkaian acara, banyak lomba yang diselenggarakan. Seperti lomba music akustik, baca puisi dan cipta puisi.
Acara pertunjukan yang dilakukan mahasiswa sastra Indonesia UNIKAMA perlu digalakkan demi kelestarian budaya yang kita miliki. Selain itu perlu pula dibangunnya sanggar – sanggar budaya sebagai wadah  pengembangan budaya lokal. Jangan sampai warisan nenek moyang kita zaman dulu lenyap begitu saja dimakan oleh waktu. Selain itu pertunjukan semacam ini juga sangat perlu supaya generasi berikutnya mengetahui dan semakin mencintai budaya mereka sendiri dan bukan malah lebih mencintai budaya orang lain padahal bangsa – bangsa dari negara lain justru mengklaim budaya kita sendiri. Sudah cukup tamparan yang diberikan malaysia kepada bangsa ini.
LihatTutupKomentar