-->

NASIB TRAGIS SANG PECINTA KEBIJAKSANAAN[1]

 “Seseorang selalu menilai dengan perasaan
Suka atau tidak suka pdahal yang demikian sungguh nista”


Misteri merupakan kata yang tidak asing lagi terdengar di telinga setiap orang. Misteri biasanya identik dengan suatu realitas yang tak terpecahkan. Misteri mimiliki arti: rahasia, teka-teki, terselubung. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KKBI) misteri merupakan  sesuatu yang sulit diungkapkan atau bersifat rahasia.
Kata-kata pecinta kebijaksanaan sering kita temui ketika kita membaca atau mempelajari filsafat. Memang pecinta kebijaksanaan sangat identik dengan seorang filusuf. Pencinta kebijaksanaan jika dikembalikan kebahasa aslinya yaitu bahasa yunani, maka kita akan menemukan kata philosopia. Secara etimologis berasal dari kata philo dan sopos. Philo diartikan cinta dan sopos diartikan kebijaksanaan, hikmah, intelegensia, dan sebagainya.
Kata philosopia pada hakikatnya jika kita mencermati arti dari kata tersebut, tidak hanya ditujukan kepada seorang filsuf akan tetapi lebih kepada semua orang yang memang cinta kepada kebenaran dan intelektualitas yang selalu berusaha untuk memperkaya hasanah pengetahuannya. Dengan demikian seorang pelajar maupun semua orang yang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai orang yang cinta kebijaksanaan.
Orang yang memiliki intelektualitas tinggi memang terkadang sering mengungkapkan maksud yang ingin ia sampaikan dengan ungkapan-ungkapan yang tidak bersahabat di telinga publik bahkan dengan ungkapan yang bertentangan dengan keyakinan masyarakat, sehingga tak ayal langsung memancing reaksi dari masyarakat, baik dari tataran masyarakat biasa maupun para pemimpin dari masyarakat itu sendiri. reaksi yang diberikan atau sikap yang ditunjukkan masyarakat sering berupa kesalah pahaman dalam menafsirkan isi dari ungkapan yang disampaikan oleh mereka. Inilah kemudian yang disebut dengan misteri seorang pecinta kebujaksanaan karena ketidak mampuan masyarakat dalam mencerna dan memahami ungkapan atau statemen yang lontarkan oleh pecinta kebijaksanaan itu sendiri.
Di Indonesia orang yang sering salah ditafsirkan sikap dan pernyataannya ialah almarhum K.H. Abdurrahman Wahid atau yang sering di sapa Gus Dur. Ketika seorang gusdur melontarkan pernyataanya sering langsung mendapatkan reaksi negative dari masyarakat. Bahkan penulis sendiri sempat merasakan hal tersebut ketika K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menghadiri sebuah acara oarng-orang kristiani di sebuah kereja. Tak ayal sikap Gus Dur tersebut langsung mendapatkan reaksi negative dari masyarakt Indonesia terutama umat muslim karena Gus Dur merupakan tokoh pemuka Agama Islam.
Pradigma masyarakat yang masih sempit dalam memahami sikap yang dilakukan oleh Dus Dur diakibatkan masih rendahnya kemampuan masyarakat dalam memahami ajaran agama mereka sendiri. ajaran yang diterima oleh masyarakat mengenai ajaran islam tidak lebih berupa dotrin-dokrin sempit yang mengakibatkan terjadinya salah paham dalam memahami ajaran itu sendiri. kecendrungan dan minat masyarakat untuk menggali dan memahami ajaran agama mereka secara mendalam sangatlah minim, sehingga masyarakat sangat sensitive terhadap hal-hal yang kiranya bertentangan dengan doktrin yang mereka terima.
Salah satu sikap bangsa Indonesia khususnya umat isalam masih sangat bergantung pada para pemuka agama yang sangat mereka hormati dan tidak selektif dalam menerima ajaran yang disampaikan. Karna sikap ketergantungan dan menganggap pemuka agama mereka segbagai orang yang dipercayai, tak jarang mengakibatkan masyarakat terjebak kedalam doktrin-doktrin yang kadang menyeleweng dari ajaran Islam yang sesungguhnya dan mengakibatkan penyempitan pemahaman terhadap ajaran itu sendiri.
Sikap Gus Dur yang lain yang dianggap bertentangan dengan ajaran islam adalah sikap ketika dia meresmikan agama Konghucu di Indonesia. Legitmasi yang didapat oleh orang-orang yang Konghucu untuk menjalankan agamanya di negeri ini juga tidak luput dari reaksi yang menentang dari masyarakat. Sebenarnya jika kita mencoba untuk memahami secara mendalam apa yang ingin diwujudkan oleh Gus Dur merupakan suatu tujuan yang sangat mulia. Dia menginkan masyarakat memahami dan mengerti akan makna pluralisme yang sesungguhnya. Bukan membenarkan semua agama tetapi menjaga hak setiap orang untuk beragama. Bukankah ini telah tersurat dan tersirat dalam landasa negara.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multikultur yang penuh dengan perbedaan-perbedaaan  yang bernuansa SARA.  Dengan melihat realita tersebut Gusdur menginginkan bangsa Indonesia ini hidup dalam suasana tenggang rasa dan toleransi dalam suasana yang penuh dengan perbedaan suku, budaya, agama, dan adat istiadat. Lebih-lebih melihat realita yang terjadi dimasyarakat bahwasanya banyak terjadi konflik yang bernuansa SARA tersebut.
Gus dur dengan sikap  kontrofersialnya sebagai seorang pemimpin dan kiai juga disambut positif bagi orang-orang yang memahami maksudnya. Komentar yang dari sikap kontroversial Gus Dur tidak hanya bernilai negative akan tetapi juga positif. Dengan sikapnya tersebut mengundang reaksi banyak orang baik dari kalangan artis hingga pejabat. Salah seorang pejabat Negara dari luar negeri pernah mengatakan bahwa “ketika seorang gusdur menjdi pereiden maka tidak lagi memposisikan diri menjadi sorang kiai bagi umat islam, melainkan harus menjadi seorang pemimpi bangsa Indonesia”. Artinya bahwa Gus Dur tidak lagi hanya menjadi milik umat islam melainkan bangsa Indonesia.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap seorang Gus Dur yang dianggap kontroversial tersebut, merupakan suatu sikap yang memang harus ada dalam diri seorang pemimpin yang memimpin suatu bangsa yang penuh akan perbedaan-perbedaan. Bahkan masyarakat yang selama ini merasa didiskriminasi oleh pemerintah merasa mendapatkan suatu kebebasan dengan apa yang telah dilakukan oleh Gus Dur.
Kesalah pahaman dalam penafsiran suatu pernyataan yang dilontarkan oleh serang seperti gusdur juga terjadi kepada seorang filsuf yang bernama Wilhel Fredric Nitzce (1844-1900) dengan stemennya yaitu “tuhan telah mati”. Kenapa  Al-mukarrom Nitzsce dengan beraninya mengatakan bahwa “Tuhan telah mati”, padahal ia senditi merupakan orang yang tumbuh dan berkembang dalam lingkup keluarga yang ta’at kepada ajaran agamanya karna ayahnya merupakan seorang pastor Protestan?
 Statemen yang mengatakan “tuhan telah mati”, jika kita memahami secara dangkal memang merupakan suatu pernyataan yang sangat bertentangan dengan kepercayaan atau keyakinan umat beragama dan bisa dikatakan sebagai suatu betuk pelecehan bahkan kepada dirinya sendiri dan tentunya juga keluarganaya. Namun maksud yang ingin disampaikan oleh Nitzce bukanlah yang dimaksudkan diatas, melaikan lebih kepada suatu kondisi keyakinan yang terjadi pada  orang-orang barat dalam mengimplementasikan ajaran agamanya. Pernyataan yang di lontarkan oleh Nitzsce dilatar belakangi oleh fakta dalam kehidupan orang-orang barat yang tidak lagi mementingkan agama untuk diimplementasikan dalam kehidupannya. Orang-orang eropa pada saat itu lebih tertarik dan cenderung kepada kehidupan yang penuh dengan materi atau menjadikan materi sebagai hal yang syang utama (materialistis) dan mengenyampingkan kebutuhan rohani yang berupa pengimpementasian ajaran agama.
Realita dalam kehidupan orang Eropa yang tidak lagi mementingkan ajaran agama dalam kehidupanya, berlanjut hingga lahirnya seorang filsuf yang bernama Karl Marx yang lahir pada tahun 1818 di Treves. Pemikiran Max yang sangat fenomenal ialah ketika dia mengeluarkan suatu statemen yang mengatakan bahwa “agama adalah candu”. Pemikiran Max tersebut bermula ketika ia menganggap bahwa agama hanya mengungkung seseorang untuk mendapatkan kesejahteraan dunia bahka mengenyampingkan sisi sosialnya dan disatu sisi dimanfaatkan untuk menindas. Agama hanya berkutik pada urusan dengan yang kuasa dan tidak akan pernah memberikan perubahan terhadap kehidupan. Pemikiranya tersebut kemudian kembangkan oleh Lenin sehingga pemikiran Marx kemudian dikenal dengan Marxisme Lanimisme yang menjadi ideologi partai komunis yang berpaham ateis.
Selain kedua tokoh di atas yang tak luput juga dari salah penafsiran terhadap pemikirannya adalah Socrates, seorang filsuf yang yunani yang lahir pada tahun 470 di Atena. Socrates merupakan pemikir besar pada masanya, namun sayangnya ajaran yang dikembangkan oleh Socrates berujunga pasa kematiannya yang teragis karna dituduh sebagai perusuh dan perusak moral pemuda pada saat itu oleh kaum shopis karna mengajarkan pahamnya yang sangat bertentangan dengan paham kerajaan. Akhirnya Socratespun dihukum oleh Negara dengan dusuruh menum segelas racun dan itulah akhir dari kehidupan pemikir besar dari Atena tersebut.
Memang sangat banyak sekali orang-orang yang salah dipahami pemikirannya bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, entah memang karna segaja disalahpahami karna ada orang lain yang merasa ditentang keyakinannya atau memang murni karna kesalahpahaman yang diakibatkan ketidak mampuan semua orang dalam menyerap maksud yang ingin disampaikan oleh orang lain. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita tidak menyalahkan seseorang hanya karna berbeda dengan keyakinan kita sebab keyakinan yang telah kita yakini belum tentu benar.
Salam Pergerakan


[1] Moh. Zalhairi, Kader Rayon Tan Malaka PMII “Ibnu Rusyd” UNIKAMA
LihatTutupKomentar