“Seseorang
selalu menilai dengan perasaan
Misteri merupakan kata
yang tidak asing lagi terdengar di telinga setiap orang. Misteri biasanya
identik dengan suatu realitas yang tak terpecahkan. Misteri mimiliki arti:
rahasia, teka-teki, terselubung. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KKBI)
misteri merupakan sesuatu yang sulit
diungkapkan atau bersifat rahasia.
Kata-kata
pecinta kebijaksanaan sering kita temui ketika kita membaca atau mempelajari
filsafat. Memang pecinta kebijaksanaan sangat identik dengan seorang filusuf.
Pencinta kebijaksanaan jika dikembalikan kebahasa aslinya yaitu bahasa yunani,
maka kita akan menemukan kata philosopia.
Secara etimologis berasal dari kata philo
dan sopos. Philo diartikan cinta dan sopos diartikan kebijaksanaan, hikmah, intelegensia, dan
sebagainya.
Kata
philosopia pada hakikatnya jika kita mencermati arti dari kata tersebut, tidak
hanya ditujukan kepada seorang filsuf akan tetapi lebih kepada semua orang yang
memang cinta kepada kebenaran dan intelektualitas yang selalu berusaha untuk
memperkaya hasanah pengetahuannya. Dengan demikian seorang pelajar maupun semua
orang yang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai orang
yang cinta kebijaksanaan.
Orang yang memiliki
intelektualitas tinggi memang terkadang sering mengungkapkan maksud yang ingin
ia sampaikan dengan ungkapan-ungkapan yang tidak bersahabat di telinga publik
bahkan dengan ungkapan yang bertentangan dengan keyakinan masyarakat, sehingga
tak ayal langsung memancing reaksi dari masyarakat, baik dari tataran masyarakat
biasa maupun para pemimpin dari masyarakat itu sendiri. reaksi yang diberikan
atau sikap yang ditunjukkan masyarakat sering berupa kesalah pahaman dalam
menafsirkan isi dari ungkapan yang disampaikan oleh mereka. Inilah kemudian
yang disebut dengan misteri seorang pecinta kebujaksanaan karena ketidak mampuan
masyarakat dalam mencerna dan memahami ungkapan atau statemen yang lontarkan
oleh pecinta kebijaksanaan itu sendiri.
Di Indonesia
orang yang sering salah ditafsirkan sikap dan pernyataannya ialah almarhum K.H.
Abdurrahman Wahid atau yang sering di sapa Gus Dur. Ketika seorang gusdur
melontarkan pernyataanya sering langsung mendapatkan reaksi negative dari
masyarakat. Bahkan penulis sendiri sempat merasakan hal tersebut ketika K.H.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menghadiri sebuah acara oarng-orang kristiani di
sebuah kereja. Tak ayal sikap Gus Dur tersebut langsung mendapatkan reaksi
negative dari masyarakt Indonesia terutama umat muslim karena Gus Dur merupakan
tokoh pemuka Agama Islam.
Pradigma
masyarakat yang masih sempit dalam memahami sikap yang dilakukan oleh Dus Dur
diakibatkan masih rendahnya kemampuan masyarakat dalam memahami ajaran agama
mereka sendiri. ajaran yang diterima oleh masyarakat mengenai ajaran islam
tidak lebih berupa dotrin-dokrin sempit yang mengakibatkan terjadinya salah
paham dalam memahami ajaran itu sendiri. kecendrungan dan minat masyarakat
untuk menggali dan memahami ajaran agama mereka secara mendalam sangatlah minim,
sehingga masyarakat sangat sensitive terhadap hal-hal yang kiranya bertentangan
dengan doktrin yang mereka terima.
Salah satu
sikap bangsa Indonesia khususnya umat isalam masih sangat bergantung pada para
pemuka agama yang sangat mereka hormati dan tidak selektif dalam menerima
ajaran yang disampaikan. Karna sikap ketergantungan dan menganggap
pemuka agama mereka segbagai orang yang dipercayai, tak jarang mengakibatkan masyarakat
terjebak kedalam doktrin-doktrin yang kadang menyeleweng dari ajaran Islam yang
sesungguhnya dan mengakibatkan penyempitan pemahaman terhadap ajaran itu sendiri.
Sikap Gus Dur
yang lain yang dianggap bertentangan dengan ajaran islam adalah sikap ketika
dia meresmikan agama Konghucu di Indonesia. Legitmasi yang didapat oleh
orang-orang yang Konghucu untuk menjalankan agamanya di negeri ini juga tidak luput
dari reaksi yang menentang dari masyarakat. Sebenarnya jika kita mencoba untuk
memahami secara mendalam apa yang ingin diwujudkan oleh Gus Dur merupakan suatu
tujuan yang sangat mulia. Dia menginkan masyarakat memahami dan mengerti akan
makna pluralisme yang sesungguhnya. Bukan membenarkan semua agama tetapi
menjaga hak setiap orang untuk beragama. Bukankah ini telah tersurat dan
tersirat dalam landasa negara.
Bangsa
Indonesia merupakan bangsa yang multikultur yang penuh dengan perbedaan-perbedaaan yang bernuansa SARA. Dengan melihat realita tersebut Gusdur
menginginkan bangsa Indonesia ini hidup dalam suasana tenggang rasa dan
toleransi dalam suasana yang penuh dengan perbedaan suku, budaya, agama, dan
adat istiadat. Lebih-lebih melihat realita yang terjadi dimasyarakat bahwasanya
banyak terjadi konflik yang bernuansa SARA tersebut.
Gus dur dengan
sikap kontrofersialnya sebagai seorang
pemimpin dan kiai juga disambut positif bagi orang-orang yang memahami
maksudnya. Komentar yang dari sikap kontroversial Gus Dur tidak hanya bernilai
negative akan tetapi juga positif. Dengan sikapnya tersebut mengundang reaksi
banyak orang baik dari kalangan artis hingga pejabat. Salah seorang pejabat
Negara dari luar negeri pernah mengatakan bahwa “ketika seorang gusdur menjdi
pereiden maka tidak lagi memposisikan diri menjadi sorang kiai bagi umat islam,
melainkan harus menjadi seorang pemimpi bangsa Indonesia”. Artinya bahwa Gus Dur
tidak lagi hanya menjadi milik umat islam melainkan bangsa Indonesia.
Dari pernyataan
tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap seorang Gus Dur yang dianggap kontroversial
tersebut, merupakan suatu sikap yang memang harus ada dalam diri seorang
pemimpin yang memimpin suatu bangsa yang penuh akan perbedaan-perbedaan. Bahkan
masyarakat yang selama ini merasa didiskriminasi oleh pemerintah merasa
mendapatkan suatu kebebasan dengan apa yang telah dilakukan oleh Gus Dur.
Kesalah
pahaman dalam penafsiran suatu pernyataan yang dilontarkan oleh serang seperti
gusdur juga terjadi kepada seorang filsuf yang bernama Wilhel Fredric Nitzce (1844-1900)
dengan stemennya yaitu “tuhan telah mati”. Kenapa Al-mukarrom Nitzsce dengan beraninya
mengatakan bahwa “Tuhan telah mati”, padahal ia senditi merupakan orang yang tumbuh dan berkembang dalam
lingkup keluarga yang ta’at kepada ajaran agamanya karna ayahnya merupakan
seorang pastor Protestan?
Statemen yang mengatakan “tuhan telah mati”,
jika kita memahami secara dangkal memang merupakan suatu pernyataan yang sangat
bertentangan dengan kepercayaan atau keyakinan umat beragama dan bisa dikatakan
sebagai suatu betuk pelecehan bahkan kepada dirinya sendiri dan tentunya juga
keluarganaya. Namun maksud yang ingin disampaikan oleh Nitzce bukanlah yang
dimaksudkan diatas, melaikan lebih kepada suatu kondisi keyakinan yang terjadi
pada orang-orang barat dalam
mengimplementasikan ajaran agamanya. Pernyataan yang di lontarkan oleh Nitzsce
dilatar
belakangi oleh fakta dalam kehidupan orang-orang barat yang tidak lagi
mementingkan agama untuk diimplementasikan dalam kehidupannya. Orang-orang
eropa pada saat itu lebih tertarik dan cenderung kepada kehidupan yang penuh
dengan materi atau menjadikan materi sebagai hal yang syang utama
(materialistis) dan mengenyampingkan kebutuhan rohani yang berupa
pengimpementasian ajaran agama.
Realita dalam
kehidupan orang Eropa yang tidak lagi mementingkan ajaran agama dalam
kehidupanya, berlanjut hingga lahirnya seorang filsuf yang bernama Karl Marx
yang lahir pada tahun 1818 di Treves. Pemikiran Max yang sangat fenomenal ialah
ketika dia mengeluarkan suatu statemen yang mengatakan bahwa “agama adalah
candu”. Pemikiran Max tersebut bermula ketika ia menganggap bahwa agama hanya
mengungkung seseorang untuk mendapatkan kesejahteraan dunia bahka
mengenyampingkan sisi sosialnya dan disatu sisi dimanfaatkan untuk menindas. Agama hanya berkutik
pada urusan dengan yang kuasa dan tidak akan pernah memberikan perubahan
terhadap kehidupan. Pemikiranya tersebut kemudian kembangkan oleh Lenin
sehingga pemikiran Marx kemudian dikenal dengan Marxisme Lanimisme yang menjadi
ideologi partai komunis yang berpaham ateis.
Selain kedua
tokoh di atas yang tak luput juga dari salah penafsiran terhadap pemikirannya
adalah Socrates, seorang filsuf yang yunani yang lahir pada tahun 470 di Atena.
Socrates merupakan pemikir besar pada masanya, namun sayangnya ajaran yang
dikembangkan oleh Socrates berujunga pasa kematiannya yang teragis karna
dituduh sebagai perusuh dan perusak moral pemuda pada saat itu oleh
kaum shopis karna
mengajarkan pahamnya yang sangat bertentangan dengan paham kerajaan. Akhirnya
Socratespun dihukum oleh Negara dengan dusuruh menum segelas racun dan itulah
akhir dari kehidupan pemikir besar dari Atena tersebut.
Memang sangat
banyak sekali orang-orang yang salah dipahami pemikirannya bahkan dalam
kehidupan kita sehari-hari, entah memang karna segaja disalahpahami karna ada
orang lain yang merasa ditentang keyakinannya atau memang murni karna
kesalahpahaman yang diakibatkan ketidak mampuan semua orang dalam menyerap
maksud yang ingin disampaikan oleh orang lain. Namun yang terpenting adalah
bagaimana kita tidak menyalahkan seseorang hanya karna berbeda dengan keyakinan
kita sebab keyakinan yang telah kita yakini belum tentu benar.
Salam Pergerakan

