-->

Seo Hok Gie

(Kisah Soe Hok Gie dalam Filem GIE)




“Di Indonesia hanya ada dua pilihan,
menjadi idealis atau apatis.
Saya sudah lama memutuskan harus
menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya”
(......Soe Hok Gie......)
   
soe hok gie merupakan seorang aktivis yang gencar melaukan perlawanan terhadap orde lama di bawah kekuasaan Soekarno. Dilahirkan pada 1942 dijakarta yang sekaligus menjadi salah satu setting dalam filem selain semeru. Tahun ini merupakan era dua tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Ia lahir di tengah kekacauan yang terjadi akibat kolonialisme. Dimana pada tahun tersebut Jepang masuk di Indonesia meggeser kekuasaan belanda yang telah lama menancapkan kekuasaannya di Indonesia.
Gie sapaan akrabnya dalam filem tersebut memang sangat menarik untuk disajikan dalam sebuah filem maupun novel. Namun sejauh ini belum ada yang menulis tokoh ini dalam sebuah novel. Tokoh ini menarik untuk disajikan kepada halaya ramai di karenakan beberapa aspek diantaranya ialah aspek idealis seorang aktivis yang sekarang banyak di politisasi atau di monopoli demi kepentingan tertentu. Filem yang disutradarai oleh Riri Riza ini memang tidak banyak dikenal oleh generasi sekarang yang sudah terbius dengan tayangan-tanyangan seperti MTVisasi, Koreanisasi, atau yang berbau senetron.
Filem ini diangkat dari tulisan-tulisan yang ditinggalkan oleh Gie semasa hidupnya yang publikasikan sebagai kritik terhadap kemapanan pada saat itu. Salah satu buku kumpulan tulisanya dapat di baca dalam Catatan Sang Demonstran. Tokoh yang memerankan karakter gie dalam filem tersebut diperankan oleh Nicolas Saputra.
            Nikolas Saputra membawakan karakter Soe Hok Gie dengan cukup baik. Dia bisa memerankan tokoh Gie dengan perwatakannya yang Kalem, dan selalu memberontak. Memang tokoh Gie tersebut menjadi gambaran yang  sangat ideal bagi Aktivis masa kini khususnya, bagaimana Gie bahkan berani berdiri sendiri menentang sebuah ketidak adilan ketika teman-temannya yang mohon maaf penulis bukan mendeskreditkan pihak, tetapi apa yang ada dalam filem tersebut memang demikian bahwa banyak tokoh HMI justru menjadi penghianat sendiri dalam perjuangan melawan rezim Soekarno. Untuk memahami filem yang disajikan oleh Riri Reza tersebut ada baiknya memang kita harus sedikit paham mengenai gejolak yang terjadi pada era Orde Lama di bawah kendali Soekarno.
Secara umum, Nikolas Saputra membawakan dua hal yang ada dalam diri Gie yang sangat erat dengannya.
1.      Tokoh Gie yang sangat idealis
2.      Sisi kemanusiaan (social value)
3.      Sisi romantisme dari seorang Gie
            Tokoh Gie yang sangat Idealis banyak tersirat dari tulusan-tulisanya yang dikutip ataupun disunting oleh beberapa penulis. Diantara kata-kata tersebut yang mengambarkan gie sebagai seorang yang idealis ialah “ lebih baik terasingkan daripada hidup dalam kemunafikan”. Dalam filem tersebut juga idealisme yang ada dalam diri Gie di visualisasikan dengan keangkuhan Gie masuk dalam beberapa organisasi nasional yang di anggapnya hanya penuh dengan kepentingan pribadi atau pihak tertentu.
            Yang perlu di ingat dalam filem tersebut, Gie memang sering tidak sepaham dengan mereka bahkan tidak masuk dalam klompok mereka tetapi Gie tetap bersama dengan mereka melakukan kritik dan perlawanan terhadap eksistensi pemerintahan pada saat itu.
Selain sisi idealis seorang Gie yang seakan-akan terjadi reinkarnasi dalam diri Nicolas Saputra, Filem tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari sisi kemanusiaan (social value). Perjuangan yang dilakaukan Gie yang digambarkan dalam filem tersebut menunjukkan kepedulian Gie dalam mendampingi masyarakat ditengah penderitaannya. Terlebih lagi paham dan perjuangan Gie yang tergambar dalam filem tersebut akan sangat diresapi dengan hadirnya tokoh di belakang layar yang membacakan tulusan-tulisan Gie.
Dua point yang tersaji diatas memang menjadi poin utama dalam filem GIE. Namun ada sisi lain yang disajikan kepada penikmat filem dengan sisi romantisme Gie yang selalau bersembunyi dibalik hati kecilnya. Filem tersebut melukiskan Gie yang malu-malu dengan seorang wanita hingga beberapa tokoh lain yaitu teman akrab Gie menghadirkan seorang pekerja seks komersial untuk menghilangkan rasa malu dalam diri Gie terhadap seornag perempuan.
Memang dalam filem tersebut Gie sempat deket dengaan Wulan Guritno sebagai seorang gadis UI namun tetap saja ia kaku berada di samping wanita. Hal ini juga tidak terlepas dari rasa yang dipendam Gie terhadap wanita yang sering menjadi teman diskusi yang satu fakultas denganya. Rasa ini pun dalam filem tersebut terpendam hingga akhir hayatnya dan hanya menitipkan selembar surat kepadanya. Gie adalah aktivis yang sangat lantang dalam meneriakan simbol perlawanan terhadap Orde lama namun tetap saja ia adalah orang yang gagal dalam meriakkan simbol-simbol cintanya.
Selain ketiga poin diatas, sebenarnya Gie juga punya pemikiran lain dalam sisi agama. Ia bukanlah orang yang terlalu peduli dengan kehidupan spiritual. Namun dalam filem tersebut sisi ini tidak terlalu ditonjolkan oleh Riri Reza selaku orang yang menyutradarai filem tersebut. Tiga point diatas memang sisi yang seringkali di kupas dalam buku-buku tentang Gie. Perpaduan antara idealisme dengan romaantisme menjadi hal yang menarik dalam diri Gie.
            Visualisasi yang tampak dalam filem tersebut sangat menarik karna Riri Reza mampu menggambarkan kondisi kehidupan yang masih sangat sederhana dan tradisional. Sehingga penikmat merasa sangat dekat dengan tokoh Gie dan era pada saat itu. Terlebih lagi sebagaimana yang terurai dalam paragraf diatas bahawa tokoh Nikolas Saputra yang mampu membawakan karakter Gie mirip dengan tokoh aslinya.
            Filem ini juga sangat dekat dengan kondisi pada saat itu diakibatkan oleh simbol-simbol pada era Orde Lama. Era yang identik dengan warna merah. warna ini memberikan simbol pada sebuah partai PKI.
Akhir cerita dalam filem ini memang menyedihkan karena Gie tewas ditengah hobinya sendiri. Gie adalah orang yang sangat peduli lingkungan hingga ketika ia mendaki ke puncak tertinggi di Jawa, Gie meninggalkan semuanya dan sekarang hanya tinggal nama.
Bagi penulis sendiri, filem ini menghadirkan Gie sebagai seseorang yang perlu untuk di ambil dan dimanifestasikan pemikirannya terlebih dalam sisi sosial. Dan layak di nikmati sekaligus diresapi oleh semua kalangan yang mencoba untuk terjun dalam dunia aktivis. Sosok Gie dalam filem tersebut harus termanifestasikan dalam dunia nyata hingga Gie yang baru bermunculan kembali.
Salam Pergerakan***
Oleh
Moh. Zalhairi
LihatTutupKomentar