-->

Sudah Terpinggir, kita Terdesak ( APA KABAR INDONESIA )


              Sudah Terpinggir, kita Terdesak
Kali ini sedikit berbincang teentang perkataan Sang Fouding Father republik indonesia, siapa beliau ?. yakni Ibrahim Tuan Datuk Tan Malaka, beliau adalah satu tokoh yang tak bisa dilepaskan dengan berdirinya bangsa ini, seorang yang dulu lahir di pandan gadang suliki ini adalah sosok cendikiawan, agamis, dan jago  dalam bela diri , sehingga menginjak dewasa sampai akhir hayat nya beliau lebih memilih jalan untuk menjadi salah satu aktor terbentuk nya republik ini. Mulai dari belajar di belanda, sampai kembali lagi ke indonesia, dan akhir nya beliau pun di sebut sebagai sang gerilya ulung oleh Jendral Sudirman, dan bapak republik indonesia oleh Moh. Yamin.

 namun kali ini kita tak aka terlalu banyak bicara sejarah hidup dan sepak terjang beliau dalam sejarah berdiri nya republik ini, kali ini kita akan mencoba mengewajantahkan kutipan perkataan beliau dalam buku yang di tulis nya ,yakni gerpolek ( gerilya,politik, dan ekonomi).

 Pertama sebelum kita bahas kutipan tan malaka, kita kan mencoba flashback pemaknaan atau penjelasan Tan malaka atas kitapan yang di sajikan di judul diatas,  pada bab yang ada di buku GERPOLEK,  judul di atas adalah suatu auto kritik Tan Malaka pada kondisi rakyat indonesia yang kedaulata republik masih seumur jagung dan juga bisa dikatan masih bayi, pertama aspek yang menjadi titik fokus kiritik tersebut adalah sikap yang diambil oleh pemerintah rebuplik yang tidak mempunyaI keberanian dan konsistensi dalam memperjuangkan kedaulatan yang utuh yang dimenangkan oleh pemerintah pasca dibacakannya teks proklamasi.

 Bukti ketidak konsistenan pemerintah ialah pemerintah republik dengan sikapnya membuka diploamsi kepada imprialis dan sekutu untuk bahagaimana mendirikan lagi kekuasaan di bumi pertiwi pada itu, pada saat itulah Tan Malaka pernah menyampaikan auto kritiknya dalam sebuah statmen “ TUAN RUMAH TAK KAN BERUNDING DENGAN MALING YANG AKAN MEMENJARAKAN RUMAH NYA”, pada polemek yang terjadi tersebut yang kurang lebih 48 hari kemerdekaan indonesia diproklamirkan , mulai saat itu terjadi perpecahan antara kaum tua (pemerintah) dan kaum muda yang sangat kecewa dengan sikap pemerintah republik, dimana yang di dengungkan adalah KEMERDEKAAN HARUSLAH 100%  baik kemerdekaan dalam segi kedaulatan, sosial, ekonomi, maupun politik di bumi pertiwi kita ini, serta ada satu statment yang menarik yang menjadi gambaran bentuk kekecewaan kaum pemuda pada waktu itu yakni “ BUKANKAH AKAN MENJADI LELUCON DUNIA NEGARA SUDAH MEMPROKLAMIRKAN MERDEKA, MASIH MAU MENERIMA DIPLOMASI  DARI KOLONIALISME YANG SEKIAN LAMA MENJAJAH BUMI PERTIWI INI “.

Mungkin itu sedikit kita paparpan kondisi ataupun isi dalam bab yang ada di GERPOLEK Tan Malaka, selanjutnya kita akan membenturkan kata kata Tan Malaka tersebut seberapa relevansi jika kita benturkan pada masa hari ini baik dalam segi kondisi pemuda hari ini dengan kondisi habitnya ( negara) kita saat ini.

Pertama kita lihat dalam sudut pandang keadaan sosial dan peran kaum mudah dimasa sekarang, jika kita mau membaca keadaan saat ini dari apa yang tadi di bahas diatas akan bisa kita rasa kira kira apa dampak apa yang hari ini terjadi dari study kasus di atas, dalam sudut pantau kedaan sosial dan peran kaum muda pada saat ini. “ SUDAH TERPINNGIR KITA TERDESAK “ pun hari ini akan relevan di bahas sebagai pelajaran dari sejarah untuk merefleksi serta sebagai bekal penataan bumi pertiwi tercinta ini di masa yang akan datang serta perlu kaum pemudah sadar dan mampu menjawab polemik perihal ini. Karena tonggak harapan bangsa dan negara ini pula akan ada dalam  punggung para pemuda nya.

Mari kita pandang sejenak seperti apa keadaan dari segi sosial negara tercinta kita ini, lalu mari kita bandingkan dimana letak kesamaan atau yang labih mainstrim apakah ada perubahan dimana mulai dari flahsback sejarah sedikit di atas, atau mana yang relevan kita kaji mulai hari ini dalam cara pandang seberapa berefek kah polemetik di atas dengan keadaan sosial pada zaman ini.
 
Jika boleh berpendapat sedikit dengan keadaan sosial  bangsa pada saat ini, saya rasa masih perlunya kita perhatikan bersama, prihal sosial di negara yang sudah 74 memproklamirkan diri menjadi negara berdaulat dan merdeka ini, namun masih banyak rakyat dari negeri luas nan kaya ini masih belum bisa merasakan kemerdekaan di negeri nya sendiri, yang saya rasa ini lah dampak dari gejolak tidak konsistennya mengambil  jalan kemerdekaan yang tak sepenuhnya , MERDEKA 100% jika Tan Malaka dengungkan bersama murba indonesia yang mana itulah cita-cita dan waktu yang di tunggu tunggu oleh rakyat bumi pertiwi ini.

Masih dalam hal yang perlu di perhatikan bersama oleh bangsa ini atas masih banyak nya ketimpangan sosial, dan masih banyak yang nilai pengangguran serta kemiskinan hari ini, serta masih mudah dilihat pula patah nya keadilan sebagai  mana amanah pendiri bangsa ini dalam 5 poin dalam PANCASILA yang menjadi prinsip serta pegangan bangsa ini, yakni point yang berbunyi, “ KEADILAN BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA”.

 Yang  terjadi dan dirasa oleh bangsa ini terkhusus pada kelas murba ploretarian indonesia hari ini anak bangsa asli bumi pertiwi  serta tanah air yang sudah berdaulat  ini, masih banyak dari mereka terpinggir di negerinya sendiri, dalam kata lain kita belum merasa mempunyai dan keamanan dalam rumahnya sendiri, dalam hal harta yang melimpah  di negeri ini dan secara lahiriyah dan kodrat nya adalah milik rakyat indonesia dan untuk bagaimana di olah menjadi  semua warga negara ini mempunyai hak memiliki dan menikmatnya, bukti konkrit hari ini, pemerintah yang seharus nya menjadi representasi seluruh rakyat indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial, hak memiliki, serta yang diharap bisa menstabilkan sosial  ekonomi  bagi seluruh rakyat nya.

Hal  itu terkadang terbalik  pemerintah  relah menggusur serta mendesak rakyat nya demi  melayani para investor asing yang ingin bercocok tanam kekayaan di negeri ini, Dalam kata lain SUDAH TERDESAK KITA TERPINGGIR  DITANAH AIR SENDIRI,   malah tuan rumahpun menjadi budak di tempat yang itu hak mereka sebagai bangsa yang merdeka, dan bisa dianalogikan kita berdiri diatas duri di tanah air sendiri.

Jika muncul pertanyaan tentang apa yang di bahas di atas siapakah yang perlu disalahkan tentang ini semua ?. jawaban nya yakni tidak ada yang patut disalahkan prihal ini, yang menjadi titik tumpu penyelesaian kesenjangan-kesenjangan sosial ini, yakni peran pemuda lah yang akan dirasa tepat menyoal ini terkhusus kepada para pemuda yang memiliki kesempatan untuk kuliah, terkadang banyak nya mahasiswa dan ribuan mahasiswa di luluskan oleh banyak nya perguruan tinggi yang ada di negeri ini, dan bisa dibilang inilah salah satu faktor meningkatnya pengangguran dan kemiskinan di negara kita ini, karena yang mana kaum intektual yang seharusnya bisa menjadi solusi untuk kesenjangan yang ada di indonesia dengan mengamalkan ilmu nya untuk bagaimana melakukan pengabdian masyarakat dengan mendirikan atau membangun kreatifitas sebagai solusi  agar masyarakat terkedali secara ekonomi dan produktifas masyarakat, namun nyata nya kebanyakan mahasiswa tak 

memikirkan hal tersebut orientasi yang men darah daging ialah kuliah untuk kerja bukan lagi berorientasi bagaimana bisa membangun lapangan pekerjaan sebagai dan mentrasformasikan ilmu sebagai solusi kesenjangan ekonomi,sosial, dan hal hal yang lain. Selain dari pada itu kebijakan dan  penerapan pemerintah masih saja sangat kental jelas dengan tebang pilih nya , yang mana yang sebenarnya setiap generasi bangsa ini mempunyai  hak berpendidikan dengan ada kelas inilah rakyat yang tak mempunyai pecaharian finansial akan di tolak dan terenggut hak nya sebagai warga negara. Dan betapa bengisnya pemerintah jika banyak nya pengangguran dan kemiskinan malah rakyatnya yang akan di salah kan karena tidak mau usaha.

 Pertanyaan nya usaha bagaimana sedangkan hak sebagai warga negara dan mempunyai hak atas kekayaan sumberdaya alam di negeri ini malah di renggut dengan dalih lahan atas milik negara. Maka di harap kedepan para pemuda terkhusus kaum intelektual perlu hadir dalam hal ini serta di tengan tengan masyarakat untuk menemukan solusi atas apa yang menjadi harap dan bagaiaman rakyat bisa merasakan kemerdekaan bagai seluruh rakyat indonesia, dan kembali  memperjuangkan  KEMERDEKAAN 100% yang menjadi hak seluruh rakyat indonesia.

Sebagai  rakyat bumi putra, sudah sepatutnya kita mulai intropeksi diri seberapa jauhkah kita sadar akan keadaan di rumah kita ini, dan sebagai  pewaris  amanah revolusi kemerdekaan indonesia, sudah berapa jauh pula berperan dalam menjaga dan mensejahterakan bangsa dan negara ini  sehingga seluruh rakyat bisa merasakan kemerdekaan yang  sebenarnya di tanah air sendiri.

Terakhir ada salah satu kata Tan Malaka pula yang saya anggap inilah pesan bagi generasi bangsa Indonesia “ atas perpindahan sikap dari jaya berjuang kepada jaya diplomasi yang hari ini diambil oleh pimpinan negara, maka pertanyaan nya  APAKAH KOBARAN SEMANGAT PERJUNGAN BISA DIMUNCULKAN LAGI UNUTK INDONESIA YANG MERDEKA 100% ?. JAWABAN NYA BIARLAH ZAMAN YANG MENJAWAB “ ( TAN MALAKA)// GERPOLEK.



SUMBER : GERPOLEK ( GERILYA,POLITIK,EKONOMI)


TEAM RATAMA 

(A.Z)



LihatTutupKomentar