Sebagai warga negara yang baik, seharus nya bersyukur dan mampu memegang amanah besar pendiri dan pahlawan yang berjuang untuk terbentuknya republik ini, Kalau mengutip perkataan Ir. Soekarno “JAS MERAH” jangan lupakan sejarah, dan dalam kata lain bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat jasa pahlawan nya. Minimal kita bisa meneruskan cita cita kemerdekaan dalam sikap dan upaya, cinta tanah air dan bangsa dan meneruskan/mewujudkan cita cita kemerdekaan indonesia.
Namun masih banyak di republik ini generasi yang pun tak menegetahui sejarah berdiri nya bangsa ini, pun masih banyak yang tidak tau para pahlawan yang rela megorbankan kemerdekaan pribadi nya demi kedaulatan republik indonesia yang Merdeka hampir 75 tahun lamanya, ini terkadang manjadi salah satu bukti dan menjadi PR besar bagi kementrian pendidikan khusus nya untuk bagaimana memasifkan lagi pengetahuan generasi bangsa perihal sejarah dan pahlawan kemerdekaan bangsa ini.
Jika generasi bangsa tidak tau perihal ini bagaimana bangsa yang besar ini bisa mempunyai rasa cinta tanah air dan bangsa, dan bisa menjadi pelopor (benteng ) negara kesatuan republik indonesia atas ancaman dari luar maupun dari dalam negeri ini.
Inilah yang harus kita refleksikan bersama, namun lucu nya di negeri ini banyak yang meng klim diri nya sebagai pejuang bangsa namun dalam penerapan nya ini malah memperlemah kesatuan dan persatuan warga negara, seperti kasus banyak nya OKP (organisasi kepemudaan), ORMAS, ( organisasi masyarakat , Front-front serta lsm yang ada di negera ini dengan bermacam aliran , ideologi, sebenar nya jika di flashback pada pra dan pasca kemerdekaan pun banyak organisasi-organisasi seperti di sebutkan di atas, namun perbedaan nya mereka dulu bersatu untuk bagaimana merebut kemerdekaan dan mengusir imprialisme dan kolonialisme dari bumi pertiwi, namun yang hari ini terjadi berbalik hampir 360 drajad, baik secara tujuan, penerapan .
Hari ini jika dilihat dari praktek yang terjadi, kita tidak lagi bicara persatuan dan menjadi barisan barisan kokoh nan kuat suatu bangsa untuk menjadi pemegang amanah pendiri bangsa yakni meneruskan perjuangan para pahlawan untuk sampai pada cita cita kemerdekaan yang sebenar nya, dalam segala aspek, zaman pra reformasi ini banyak nya organisasi malah menjadi bumerang bagi negara dan meresahkan bangsa ini, ternyata apa yang pernah Ir. Soekarna dulu pernah di sampaikan “perjuangan bangsa ini kedepan akan lebih sulit, dari perjuangan hari ini, karena bukan lagi penjajah yang harus di lawan, namun kemudian nanti akan sampai pada titik kita kan menghadapi bangsa kita sendiri.
Jika kita amati akhir-akhir ini, banyak nya pertumpahan darah hanya karena beda organsasi , aliran, ormas.hari ini yang terjadi dengan banyak nya berbagai macam organisasi baik kepemudaan maupun masyarakat kita malah banyak melihat Intoleransi di negara ini satu sama lain saling menjatuhkan dan mudah di adu domba oleh pihak pihak yang menginkan bangsa yang besar ini runtuh sedikit demi sedikit akan hancur di makan zaman jika kita tak mampu intorpeksi serta refleksian mulai hari ini. Bukan lagi kemakmuran dan keadilan bagi rakyat indonesia yang terjadi, namun bagaimana pemerintahan yang seharusnya harus manjadi kendaraan rakyat menuju kemakmuran dan keadilan untuk sampai pada cita cita dan amanah kemerdekaan yang terjadi, praktek lapangan yang terjadi seakan kita berdiri pada duri di tanah air kita sendiri.
Masih banyak praktek pula, demi investasi rela dan tega menyingkirkan rakyat nya, demi kolaborasi untuk kepentingan tertentu rela membodohi bangsa nya sendiri, apakah ini yang di katakan MERDEKA DAN BERDAULAT, mari kita refleksi dan benahi bersama, dulu pahlawan rela berlumuran dara sehingga meninggal untuk kemerdekaan , namun hari ini itu semua hanya tinggal sejarah saja,.
Kali ini kita akan berbincang tentang dua sosok pahlawan ulung kedua tokoh ini saya ambil dua tokoh pertama Tan malaka ( pra kemerdekaan) , Soe hok –gie (pasca kemerdekaan ), kenapa kita ambil dua Tokoh ini ?. jawaban nya, mereka adalah 2 tokoh dari sekian banyak pahlawan kemerdekaan indonesia, namun menariknya sebagai mana judul di atas mereka berdua sudah Mati, namun masih hidup sebagai “ PAHLAWAN DALAM KERTAS”.
Kematian memang tak bisa kita tolak, dan tidak bisa kita bersembunyi dari kematian, karena itu sudah menjadi kepastian dari yang maha kuasa, menghidupkan manusia untuk mati, namun sebelum itu semua menghampiri kita pada waktu nya entah kapan , kita harus melakukan masa hidup kita dengan bijak dan melakukan sesuai jalan sebagaimana orang beragama ataupun sebagai orang bertuhan. Dan perlu di ingat pula kehidupan kita pun ada tanggung jawab untuk melakukan hal-hal sebelum kita kembali pada sang maha kuasa beberapa hal tersebut antara lain.
1. Hablu minnalah ( Hubungan kepada tuhan )
2. Hablu minannas ( Hubungan dengan manusia)
3. Hablu minal alam ( hubungan kepada alam )
Sekilas tentang judul “ PAHLAWAN DALAM KERTAS”, Meraka para pendahulu kita mungkin secara jasad sudah tiada dalam jagat ini, namun seorang yang mati jika sebelum nya punya manfaat bagi khalayak pasti, mati pun mereka akan tetap di adakan, baik dalam kenangan , sejarah yang di torehkan , maupun karya-karya nya Baik dalam tulisan maupun tersirat. Kami ambil contoh salah satu pahalwan kemerdekaan bangsa ini dari sekian banyak para pahlawan, beliau adalah Datuk Ibrahim Tuan Tan Malaka biasa di kenal dengan nama Tan Malaka meski nyatanya sekitar 20 lebih nama samaran yang di miliki beliau seperti Ilyas Husein dan nama – nama yang lain dibuat nya dalam masa perantauan mencari ilmu atau pun pembuangan politik dari kerajaan hindia belanda pada zaman kolonialisme dulu manjajah nusantara ( sebelum adanya indonesia ), beliau lahir di Nagari Pandam Gadang, Gunuang Omeh, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, tokoh Partai Komunis Indonesia, juga pendiri Partai Murba, dan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.
Beliau sudah meninggal mulai 1949, namun beliau masih sebagai pahlawan yang masih mendengungkan ide serta gagasan nya pada republik ini dalam buku-buku karya beliau, yang mana beliau tulis pada waktu yang di bilang sulit dan dengan berbagai masalah yang akan di hadapi nya, namun beliau dengan niat serta istiqomah yang kuat atas visi yang beliau dan kaum pemuda canangkan yakni MERDEKA 100%, Sepak terjang beliau pun tidak bisa kita remehkan sama sekali, beliau lah salah satu konseptor yang merumuskan sistem ketatanegaraan dan bentuk pemerintahan yakni REPUBLIK INDONESIA beliau menuliskan idea serta pemikiran nya dalam bentuk buku dengan judul NAAR DE REPUBLIK INDONESIA, yang itu jauh sebelum pahlawan lain menggagas kata REPUBLIK seperti Soekarno dan Hatta.
Rekam jejak beliau sangat dramatis dan berakhir tragis , beliau ketika dari Harleem Belanda dan sebelum kembali ke indonesia beliau pertama mengenal pemikiran-pemikiran sosialis,politik, serta komunis , dan dalam Buku Auto biografi beliau “ PENJARA KE PENJARA”, buku yang pertama di baca sehingga beliau tertarik untuk mendalami ke tiga ilmu diatas ( politik, sosialis,komunis) dengan di benturkan dengan keadaan bangsa dan tanah air indonesia sehingga memilih untuk mengorbankan kemerdekaan pribadi nya untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa ini baik dalam bentuk gerakan revolusioner bersama para pejuang lain namun beliau membukukan ide-ide nya dalam bentuk karya tulisan, sehingga harapan beliau buku tersebut menjadi pegangan bangsa dan rakyat indonesia meski pun tak banyak hari ini buku nya tak banyak di ketahui dan sosok nya jarang sekali dalam buku sejarah maupun pendidikan tentang sejarah mulai dari, Sd, Smp , Sma sederajat di bangsa ini.
Sedikit tantang Perjuangan Tan Malaka dalam mewujudkan indonesia berdaulat dan merdeka hingga saat ini,sepulang beliau dari belanda Tan Malaka menjadi salah satu tokoh pemuda yang dangan berkorban dan menjadi aktor perjuangan pemuda indonesia pada waktu itu, mulai dari menjadi guru anak perkebunan dan pekerja kereta, Bergabung di Sarekat Islam bersama Darsono dan Alimin yang mana SI (sareka islam) di bawa pimian H.O.S Tjokroaminoto sehingga itu menjadi cikal bakal terbentuk nya PKI ( partai komunis indonesia) karena pecah nya SI dan SI merah yang awal nya karena terjadi perpecahan pengikut SI dengan waacana dan kemauman dari alimin dan tokoh kiri lain di SI untuk mengkolaborasikan Antara komunis dan islam dan tidak di sepakati sebagian anggota SI.
selaian itu karena jiwa revolusioner dan gerilya, pemikiran nya tan malaka pernah di buang sebagai pelarian politik hampir 20 tahun dan mengilingi 2 samudra karena di anggap oleh kolonialisme menjadi bumerang dan ancaman untuk kekuasan yang berdiri kokoh di bumipura beratus tahun kebelangam, dan yang sangat tragis beliau pun wafat denga cara yang mengenaskan di eksekusi mati oleh tentara indonesia sendiri sebagai penghianat bangsa, namun sebelum di eksekusi dengan lantang dia berkata “ DARI DALAM KUBUR SUARAKU AKAN LEBIH KERAS” dan banyak penafsiran atas kata tersebut. Beliau memang sudah mati namun beliau terus berteriak kerasa tentang jiwa revolusioner nya, serta gagasan nya terus di baca sebagai refrensi, serta jiwa masih terus ada di mana” kalangan mahasiswa semisal merekalah Bersama berjung denga Sosok PAHLAWAN YANG HIDUP DALAM KERTAS , jiwa nya mati namun suara dan ide nya di mana-mana.
Pasca kemerdaan indonesia setela di proklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Hatta 1945, di masa tahun 80 an adalah salah satu pemikir dan pejuang ulung serta aktivis mahasiswa yang hampir separuh hidup nya di habiskan untuk menerusakan cita cita kemerdekaan indonesia beliau yakni Soe hok-gie, beliau pun sebagai aktor runtuh nya orde lama dan berdirinya baru, yang mana pada waktu itu indonesia dalam masa terjadinya inflasi besar besar an , serta kesenjangan sosial bagi rakyat indonesia, serta marak nya, KKN ( Kolusi, korupsi, nepotisme.
Soe Hok Gie lahir di Jakarta pada tanggal 17 Desember 1942. Anak keempat dari pasangan Soe Lie Pit (Salam Sustrawan) dan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah adik dari Arief Budiman (Soe Hok Djin), seorang dosen di Universitas Kristen Satya Wacana yang terkenal juga dengan pemikiran yang kritis, dan salah satu aktivis 66. Ayah dari Soe Hok Gie sendiri adalah seorang penulis. Agaknya, bakat inilah yang diturunkan ke Soe Hok Gie.
Kala jatuhnya era Orde Lama, kita tidak bisa melupakan konstribusi mahasiswa di dalam pencapaian itu. Mahasiswa yang saat itu tergabung dari berbagai gerakan organisasi dapat menumbangkan Orde Lama, yang terkenal dengan korupsi dan PKI di jaman itu. Di dalam pergerakan ini, kita tidak bisa memisahkan peran seorang mahasiswa keturunan Tionghoa yang terkenal dengan kritiknya yang tajam di media cetak. Siapa lagi kalau bukan Soe Hok Gie
Soe Hok Gie pun pernah bertemu dengan Presiden Soekarno. Dia ditunjuk sebagai salah satu perwakilan mahasiswa yang menyetujui asimilasi. Di pertemuan itu Soe HoK Gie mengagumi Presiden Soekarno sebagai teman berbicara, tetapi Soe Hok Gie tidak menyukainya sebagai pemimpin.
Soe Hok Gie, sama halnya seperti tokoh Tan Malaka di atas selain jiwa militansi, dan semangat revolusioner beliau pun, pun mempunyai karya baik tulisan atau tindak nya serta di tulis dalam buku sebagai sejarah nya seorang tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari berdiri kokoh nya republik nya, dan beliaupun meski sudah tiada di permukaan bumi, namun beliau pun tetap hidup sebagai PAHLAWAN DALAM KERTAS, Gie tetap bergerak dan lantang suaranya sampai saat ini,
Pelajaran yang bisa kita ambil dari ke 2 tokoh Pahlawan indonesia diatas,ialah sebagaimana Pramoediya Ananta Toer bernah berkata pada buku nya “ MENULIS ADALAH SENI KEKEKAL AN” dia sudah mati namun meraka masih hidup dalam kertas, dan akan selalu ada dengan generasi yang mempunyai jiwa perjuangan dan mejadikan pedoman karya karya yang pernah di tuliskan.
Sumber : Penjara ke Penjara ( tan malaka ), aksi masa ( tan malaka ), gerpolek ( tan malaka ), madilog ( tan malaka ), semangat muda ( tan malaka ). Catatan seorang demonstran (gie)
TEAM RATAMA
RED (A.Z)

